Simeulue (Kemenag) — Gema Talbiyah kini mulai menyentuh sanubari para calon tamu Allah di Kepulauan Simeulue. Sebagai bentuk dedikasi dalam memberikan pelayanan terbaik, Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Simeulue resmi membuka tirai persiapan melalui Manasik Haji Terintegrasi Tingkat Kecamatan Tahun 1447 H/2026 M.
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah kawah candradimuka bagi 27 jamaah calon haji, terdiri dari 17 jamaah reguler dan 10 jamaah cadangan untuk memurnikan niat dan mengokohkan langkah sebelum benar-benar bersimpuh di hadapan Ka’bah.
Mengusung tema besar “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan,” kegiatan ini menegaskan sebuah pesan inklusif: bahwa panggilan Allah adalah milik semua, dan negara hadir untuk memastikan kenyamanan setiap hamba-Nya tanpa terkecuali.
Istitha’ah: Sebuah Kesiapan yang Melampaui Materi
Hadir sebagai pemateri utama pada hari pertama, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simeulue, H. Nashrullah, S.Ag., MA. membawa suasana diskusi yang dimoderatori oleh Mulyadi, S.Sy, menjadi lebih dari sekadar sesi tanya jawab. Beliau menyentuh sisi paling mendasar dari ibadah haji, yakni makna Istitha’ah atau kemampuan.
Dalam paparannya, Abi Nashrullah menegaskan bahwa haji bukanlah sebuah fragmen tunggal yang terjadi saat jamaah mengenakan kain ihram. Ia adalah rantai panjang yang kokoh, dimulai sejak titik pendaftaran, perjuangan pelunasan, pemeriksaan kesehatan, hingga ketekunan mengikuti manasik.
“Haji adalah panggilan yang sangat personal. Tidak semua yang kuat fisiknya berangkat, dan tidak semua yang berlimpah hartanya terpanggil. Istitha’ah adalah harmoni antara kesehatan raga, kecukupan harta, serta kesiapan lahir dan batin. Di sini, kita belajar bahwa Allah tidak memanggil orang yang mampu, tapi Allah memampukan orang yang terpanggil,” ungkap Abi Nashrullah.
Menuntaskan Janji di Bumi, Menjemput Ridha di Langit
Satu aspek yang ditekankan secara mendalam oleh Abi Nashrullah adalah urgensi persiapan pra-embarkasi yang seringkali terlupakan oleh urusan teknis: Penyelesaian muamalah antarmanusia. Beliau mengingatkan dengan tegas agar setiap jamaah memastikan tidak ada “beban” yang tertinggal di tanah air.
Menurutnya, sebelum melangkah menuju Arafah, seorang calon haji harus menyelesaikan hak-hak orang lain. Memohon maaf kepada keluarga, meluruskan janji dengan tetangga, hingga memastikan tanggung jawab pekerjaan telah tertunaikan dengan baik adalah syarat spiritual agar hati bisa terbang dengan ringan. Kesiapan spiritual ini dipandang sebagai fondasi utama agar jamaah dapat menunaikan ibadah dengan hati yang lapang, tanpa dibayangi rasa bersalah atau kegelisahan duniawi.
Transformasi Kelembagaan dan Kemandirian Jamaah
Dalam kesempatan tersebut, Abi Nashrullah juga memberikan pencerahan mengenai era baru tata kelola haji. Seiring dengan pemisahan kelembagaan, kini kendali penuh operasional berada di bawah Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia. Perubahan ini bukan sekadar rotasi nama, melainkan upaya negara untuk memberikan pelayanan yang lebih spesifik, mandiri, dan responsif terhadap kebutuhan jamaah.
Beliau juga membedah secara teliti perbedaan teknis antara jamaah gelombang pertama dan kedua. Mulai dari alur perjalanan, titik miqat, hingga penyesuaian diri terhadap lingkungan di Arab Saudi, semua dikupas agar jamaah memiliki navigasi yang jelas.
Sederhana dalam Materi, Kaya dalam Spiritualitas
Pesan bijak lainnya adalah ajakan untuk bersikap bersahaja. Abi Nashrullah mengimbau jamaah untuk tidak berlebihan dalam urusan material dan tetap fokus pada esensi. “Tanah Suci adalah tempat kita menanggalkan atribut dunia, maka janganlah kita sibuk membawa beban dunia ke sana,” pesannya. Beliau meminta jamaah untuk membiasakan diri dengan perilaku tertib, menjaga adab, serta memperbanyak zikir dan tilawah Al-Qur’an sejak masih berada di Simeulue.
Senada dengan itu, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Simeulue, Mus Mulyadi, S.Ag, menyampaikan bahwa manasik terintegrasi ini dirancang untuk menciptakan jamaah yang mandiri. Melalui pembinaan yang terstruktur selama empat hari ini, diharapkan setiap jamaah memiliki pemahaman utuh sehingga mampu menghadapi dinamika di lapangan dengan tenang.
Manasik ini pada akhirnya bukan sekadar ruang kelas untuk menghafal rukun dan wajib haji, melainkan jembatan hati bagi para hamba terpilih dari Kabupaten Simeulue untuk melangkah ke tanah para nabi. Dengan bekal ketenangan batin dan pemahaman yang utuh, 27 jamaah ini kini tak lagi sekadar berangkat membawa tas dan koper, namun membawa harapan besar untuk pulang sebagai pribadi yang baru, pribadi yang mabrur, yang kesalehannya mampu menyinari keluarga dan masyarakat sekembalinya ke kepulauan tercinta.



