Di tengah duka akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah daratan Aceh, semangat saling membantu tumbuh di berbagai daerah. Dari Kabupaten Simeulue, pulau terluar Aceh yang dipisahkan oleh laut, kepedulian tumbuh dan bergerak dalam bentuk nyata. Melalui Posko Tanggap Darurat Bencana, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simeulue hingga 15 Desember 2025 berhasil menghimpun donasi kemanusiaan sebesar Rp 47.244.000 untuk membantu masyarakat terdampak banjir. Selain bantuan dana, kepedulian juga diwujudkan dalam bentuk pakaian layak pakai yang dikumpulkan guna memenuhi kebutuhan para penyintas.
Donasi tersebut terkumpul dari berbagai lapisan, mulai dari ASN Kemenag Simeulue, satuan pendidikan madrasah, KUA Kecamatan, hingga masyarakat umum. Setiap kontribusi lahir dari niat yang sama: berbagi dan menguatkan, tanpa melihat besar kecilnya kemampuan. Proses penghimpunan berlangsung dengan semangat kebersamaan, mencerminkan kepedulian yang tumbuh secara alami di tengah masyarakat.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simeulue, Nashrullah, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh donatur yang telah mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan tersebut. Menurutnya, kepercayaan yang diberikan kepada Kemenag Simeulue merupakan amanah yang harus dijaga dan disalurkan dengan penuh tanggung jawab.
βSetiap bantuan yang diberikan memiliki nilai yang sama di hadapan kemanusiaan. Besar atau kecilnya donasi tidak menjadi ukuran, karena yang terpenting adalah ketulusan dan niat baik untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan,β ujar Nashrullah..
Lebih dari sekadar bantuan materi, Nashrullah menilai aksi ini membawa pesan kebersamaan yang kuat. Meski secara geografis berada jauh dari lokasi bencana, masyarakat Simeulue tetap hadir melalui kepedulian dan solidaritas. Jarak tak akan menghalangi empati, dan keterbatasan tidak menjadi alasan untuk tidak berbagi.
Seluruh donasi yang terhimpun selanjutnya dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan para penyintas banjir, disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan yang paling mendesak. Penyaluran dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan kebermanfaatan agar bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Aksi kemanusiaan ini menjadi pengingat bahwa solidaritas tidak selalu datang dari tempat yang dekat, melainkan dari hati yang peduli. Dari pulau terluar Aceh, Kemenag Simeulue bersama masyarakatnya menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: bahwa di balik setiap musibah, selalu ada tangan-tangan yang siap menguatkan, dan setiap kebaikan, sekecil apa pun tak pernah kehilangan nilainya.

