Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simeulue, Nashrullah menyampaikan khutbah Jumat bertema “Hijrah Menuju Perbaikan” pada pelaksanaan Salat Jumat, 9 Januari 2026, di Masjid Tgk. Khalilullah, Sinabang.
Dalam khutbahnya, Nashullah mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT serta mensyukuri nikmat kehidupan yang masih diberikan hingga hari ini. Ia mengingatkan bahwa kesempatan untuk hidup, sehat, dan beribadah merupakan anugerah besar yang sering kali luput dari perhatian manusia.
Ia menyampaikan bahwa hari ini jamaah masih diberi kemampuan untuk melangkahkan kaki ke rumah Allah, dengan anggota tubuh yang berfungsi normal sebagaimana hari-hari sebelumnya. Padahal, di saat yang sama, ada saudara-saudara yang bangun di pagi hari dalam kondisi tubuh yang tidak lagi normal dan harus segera mendapatkan bantuan medis serta menjalani perawatan.
“Alhamdulillah, Allah masih memberi kita kesempatan hidup, kesehatan, dan kemampuan untuk beribadah. Nikmat ini patut kita syukuri, karena tidak semua orang diberi keadaan yang sama,” tuturnya di hadapan jamaah.
Lebih lanjut disampaikan, rasa syukur atas nikmat tersebut seharusnya diwujudkan dengan ketaatan, bukan sekadar ucapan, tetapi melalui perbaikan diri dalam ibadah dan perilaku sehari-hari. Menurutnya, kesempatan hidup yang masih diberikan Allah SWT adalah ruang untuk terus berbenah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Pada bagian inti khutbah, Kepala Kantor menjelaskan makna hijrah yang menjadi tema utama. Ia menegaskan bahwa hijrah tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa sejarah perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga sebagai proses perubahan sikap, perilaku, dan kebiasaan manusia menuju keadaan yang lebih baik.
Hijrah, dalam penjelasannya, adalah keberanian meninggalkan satu kondisi menuju kondisi lain yang lebih diridhai Allah SWT. Meninggalkan kebiasaan yang salah menuju kebiasaan yang benar, meninggalkan kelalaian menuju ketaatan, serta meninggalkan kehidupan yang tidak tertata menuju kehidupan yang lebih terarah.
Ia mencontohkan hijrah dalam kehidupan sehari-hari, seperti meninggalkan kebiasaan tidak salat menuju salat yang terjaga, meninggalkan sikap abai terhadap diri sendiri menuju hidup yang lebih terawat, serta meninggalkan akhlak yang kurang baik menuju akhlak yang lebih mulia.
“Hakikat hijrah adalah perubahan. Perubahan dari yang kurang baik menuju yang lebih baik, dan dari yang belum benar menuju yang benar,” ungkapnya.
Nashrullah juga menekankan bahwa hijrah merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan kesungguhan dan keistiqamahan. Hijrah tidak diukur dari seberapa cepat seseorang berubah, melainkan dari keseriusan untuk terus memperbaiki diri dengan niat yang lurus karena Allah SWT.
“Hijrah bukan tentang siapa yang paling cepat berubah, bukan pula tentang siapa yang paling tampak saleh. Hijrah adalah tentang kesungguhan untuk terus bergerak menuju perbaikan, meski perlahan, meski tertatih, selama arahnya benar dan niatnya karena Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā memberi kita kekuatan untuk berhijrah, menjaga keistiqamahan, dan mengakhiri hidup kita dalam keadaan husnul khātimah,” tutupnya.
Melalui khutbah Jumat ini, Nashrullah berharap semangat hijrah dapat tertanam kuat dalam diri setiap jamaah, sehingga mampu mendorong terwujudnya perbaikan berkelanjutan, baik secara pribadi maupun sosial. Ia juga mengajak jamaah untuk menjadikan momentum hijrah sebagai sarana introspeksi diri dan komitmen bersama menuju kehidupan yang lebih baik dan diridhai Allah SWT.
- Sumber: Dinul Amin, S.Pd.I.
(Pengawas Madrasah pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simeulue)