(Ridha Maulida)
SIMEULUE – Suasana upacara bendera di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Simeulue pada Senin (28/7/2025) terasa lebih mendalam dari biasanya. Bertindak sebagai pembina upacara, Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simeulue, Ansaruddin, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan amanat yang sarat makna di hadapan seluruh guru dan siswa. Ia menegaskan bahwa tujuan akhir dari proses belajar bukanlah sekadar prestasi akademik, melainkan pembentukan akhlak mulia yang bermanfaat bagi sesama.
Untuk mengilustrasikan pesannya, Ansaruddin mengutip pepatah Arab, “Faqidusy-syai’ la yu‘ti, yang bermakna, “Seseorang yang tidak memiliki sesuatu, tidak akan bisa memberi apa-apa.” Menurutnya, pepatah ini menjadi pengingat fundamental bahwa untuk dapat memberi manfaat, setiap individu harus terlebih dahulu mengisi dirinya dengan bekal yang cukup. Ia kemudian menjabarkan filosofi ini melalui analogi sebatang pohon sebagai cerminan perjalanan seorang pelajar.
Pertama, Ansaruddin mengibaratkan akar sebagai fondasi ilmu dan karakter. Menurutnya, akar yang kuat dan mencengkeram dalam melambangkan ketekunan dalam menuntut ilmu, rajin membaca, aktif bertanya, serta mengamalkan pengetahuan. “Jika akar kita rapuh karena malas belajar dan tidak memiliki karakter yang baik, maka kita kehilangan nutrisi penting untuk tumbuh. Fondasi inilah yang akan menentukan kokoh atau tidaknya kita di masa depan,” ujarnya.
Selanjutnya, batang pohon disimbolkan sebagai proses pertumbuhan dan tempaan pengalaman selama menempuh pendidikan. Interaksi sosial, keikutsertaan dalam organisasi, hingga keberanian menghadapi tantangan dan kegagalan merupakan proses pendewasaan. “Batang yang kokoh tidak terbentuk dari kemudahan, melainkan dari terpaan angin dan badai. Setiap tantangan dan pengalaman adalah pupuk yang mendewasakan dan memperkuat diri kita,” tegas Ansaruddin yang pernah menjadi Kasi Pakis itu.
Puncak dari analogi tersebut adalah buah, yang merepresentasikan hasil akhir dari pendidikan, yakni akhlak mulia dan kebermanfaatan. Ansaruddin menekankan bahwa inilah esensi dari tujuan pendidikan yang sesungguhnya. “Setiap orang menanam sesuatu pada umumnya untuk menghasilkan buah. Begitu pula proses kita belajar, tujuan akhirnya adalah akhlak, sebagaimana Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa prestasi terbaik adalah ketika seseorang mampu menghasilkan “buah” berupa kontribusi nyata bagi lingkungannya.
Mengakhiri amanatnya, Ansaruddin menyerukan kepada seluruh siswa untuk tidak pernah lelah mengisi diri dengan ilmu yang bermanfaat dan akhlak terpuji. Ia mendorong mereka agar menjadi pribadi yang utuh, dengan akar ilmu yang kuat, batang pengalaman yang kokoh, sehingga kelak dapat menghasilkan buah-buah kebaikan yang tak terhingga bagi agama, bangsa, dan negara.
Upacara yang berlangsung dengan khidmat tersebut ditutup dengan doa bersama. Amanat yang disampaikan diharapkan menjadi suntikan motivasi bagi segenap sivitas akademika MAN Simeulue untuk terus berproses, tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga mewujudkan tujuan mulia pendidikan: menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama.
Ansaruddin Pembina Upacara di MAN Simeulue: Buah Pendidikan Sejati adalah Akhlak Mulia dan Manfaat bagi Sesama