Menyusuri Lumpur dan Krisis Pasca Bencana, Kisah Kakankemenag Simeulue Nashrullah Turun Langsung Menyapa Korban Banjir

Aksesibilitas:
Menyusuri Lumpur dan Krisis Pasca Bencana, Kisah Kakankemenag Simeulue Nashrullah Turun Langsung Menyapa Korban Banjir

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh bukan sekadar meninggalkan genangan air dan lumpur, tetapi juga menyisakan kisah pilu tentang keterbatasan, keteguhan, dan harapan. Di tengah situasi tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simeulue, Nashrullah, berusaha untuk dapat hadir langsung di tengah masyarakat, menyaksikan dari dekat bagaimana warga bertahan dalam kondisi serba sulit.

Perjalanan kemanusiaan itu membawa Nashrullah ke beberapa titik terdampak banjir. Di sana, ia tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga mendengarkan cerita warga satu per satu. Mulai dari ibu-ibu yang kesulitan memasak karena keterbatasan bahan pangan, hingga jamaah masjid yang mengalami keterbatasan fasilitas bersuci akibat minimnya ketersediaan air bersih.

β€œSaya ingin melihat langsung, merasakan langsung, apa yang dialami saudara-saudara kita,” tutur Nashrullah saat menyampaikan pengalamannya di Halaman Kemenag Simeulue pada Rabu, 17 Desember 2025.

Air Lebih Berharga dari Makanan

Dalam kunjungan tersebut, Nashrullah menemukan satu kenyataan yang sangat menggugah nurani: air bersih menjadi kebutuhan paling mendesak. Bantuan berupa beras, minyak, dan susu memang dibutuhkan, namun bagi warga terdampak, seteguk air justru menjadi hal yang paling dicari.

Ia mengisahkan bagaimana masyarakat harus berbagi air minum dalam jumlah yang sangat terbatas. Bahkan, ada warga yang hanya mampu meminum air kemasan gelas kecil dengan menggunakan pipet, sekadar untuk membasahi tenggorokan.

β€œKita di sini minum air dengan mudah, bahkan kadang berlebihan. Di sana, air diminum setetes demi setetes,” ujarnya dengan suara bergetar.

Kondisi ini juga berdampak langsung pada rumah ibadah. Beberapa masjid, musala, dan langgar di wilayah terdampak dilaporkan tidak memiliki pasokan air selama berhari-hari. Bukan hanya sulit dibersihkan dari lumpur, jamaah pun kesulitan untuk berwudhu dan mandi.

Bantuan Nyata, Bukan Sekadar Simbolik

Merespons kondisi tersebut, Nashrullah bersama ASN Kementerian Agama Simeulue segera mengambil langkah konkret. Selain menyalurkan bantuan pangan yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah, Kemenag Simeulue melalui program Kemenag Peduli juga mendukung aksi pengeboran sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Dana disalurkan untuk pembuatan sumur bor di sekitar rumah ibadah, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh jamaah dan warga sekitar. Proses ini melibatkan koordinasi lintas daerah, termasuk dengan tim teknis yang melakukan pendeteksian titik air secara langsung di lapangan.

β€œAir ini bukan hanya untuk mandi dan minum, tetapi juga untuk taharah, untuk ibadah. Itu yang menjadi perhatian utama kami,” jelas Nashrullah.

Tak berhenti di situ, bantuan juga dialokasikan untuk membersihkan rumah ibadah dan madrasah yang terendam lumpur. Alat-alat kebersihan, tenaga pembersih, hingga dukungan operasional diberikan agar masjid dan madrasah dapat kembali digunakan.

Menyusuri Keterbatasan, Menjaga Silaturahmi

Dalam perjalanannya, Nashrullah juga menghadapi keterbatasan fisik dan medan yang tidak mudah. Beberapa wilayah terdampak bahkan belum dapat dijangkau karena akses jalan yang rusak dan kondisi cuaca yang belum sepenuhnya pulih. Meski demikian, komunikasi dan silaturahmi tetap dijaga dengan menyalurkan bantuan melalui transfer agar kebutuhan mendesak warga tetap terpenuhi.

Ia menegaskan bahwa bantuan yang diberikan bukanlah tentang jumlah, melainkan tentang kehadiran dan kepedulian. Baginya, turun langsung ke lapangan adalah bentuk tanggung jawab moral sekaligus penguatan empati.

Pelajaran tentang Keikhlasan

Di tengah perjalanan kemanusiaan tersebut, Nashrullah juga menyampaikan refleksi spiritual yang ia saksikan langsung. Ia menceritakan kisah seorang tokoh agama yang kehilangan hampir seluruh kendaraannya akibat banjir, namun satu kendaraan sederhana yang biasa digunakan untuk berangkat ke masjid justru tetap berfungsi.

β€œKita melihat sendiri bagaimana Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Keikhlasan itu nyata, dan pertolongan Allah datang dengan cara yang tidak disangka-sangka,” ucapnya.

Kisah-kisah seperti inilah yang, menurut Nashrullah, menjadi penguat bagi dirinya dan seluruh tim untuk terus bergerak membantu, meski dengan segala keterbatasan.

Ajakan Kepedulian Berkelanjutan

Menutup pemaparannya, Nashrullah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menumbuhkan kepedulian dan semangat berbagi. Ia menegaskan bahwa Posko Kemenag Simeulue masih terbuka bagi siapa pun yang ingin menyalurkan donasi, khususnya untuk pemulihan pascabencana.

β€œBerapapun yang kita bantu, dengan ikhlas, insyaallah akan membawa keberkahan. Semoga Allah mudahkan urusan saudara-saudara kita dan juga urusan kita semua,” pungkasnya.

Di balik genangan banjir dan lumpur yang belum sepenuhnya mengering, kehadiran Nashrullah di tengah masyarakat menjadi penanda bahwa kepemimpinan tidak hanya hadir di balik meja, tetapi juga di tengah duka dan perjuangan warga.

Ridha Maulida

Ditulis oleh: Ridha Maulida

Pranata Humas pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simeulue