Pelaksanaan Salat Jum’at di Masjid Ar-Raudha berlangsung khusyuk pada Jumat 21 November 2025 dengan khutbah disampaikan oleh Zulkarpian, S.Pd.I., M.Pd., guru MAN 1 Simeulue. Pada kesempatan tersebut, beliau mengangkat tema penting mengenai cara membedakan antara nikmat yang merupakan karunia Allah dan istidraj, yaitu kelapangan yang diberikan untuk menjerumuskan hamba yang lalai.
Dalam khutbahnya, Zulkarpian menjelaskan bahwa ketakwaan menjadi indikator paling jelas untuk melihat dari mana sebuah kenikmatan berasal. “Jika seseorang taat beribadah, maka nikmat yang diterimanya adalah bentuk kemurahan Allah. Namun bila ia lalai, bisa saja kelapangan itu merupakan istidraj,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia mengingatkan agar siapa pun yang sedang merasakan kelapangan rezeki, kenaikan jabatan, atau berbagai bentuk kebahagiaan tidak lalai untuk bermuhasabah. “Jangan-jangan, tanpa disadari, ia sedang mengalami istidraj,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Zulkarpian juga memaparkan tanda-tanda istidraj yang perlu diwaspadai, antara lain:
- Nikmat dunia semakin bertambah, tetapi keimanan justru menurun.
- Kemudahan hidup terus diperoleh meski masih bergelimang maksiat.
- Rezeki bertambah, tetapi ibadah semakin ditinggalkan.
- Harta melimpah, namun sifat kikir semakin kuat.
- Jarang ditimpa musibah, tetapi kesombongan makin melekat.
Zulkarpian menegaskan bahwa setiap nikmat harus disikapi dengan syukur. “Nikmat seharusnya mendekatkan kita kepada Allah, bukan menjauhkan,” katanya. Ia juga mengajak jamaah untuk bersyukur melalui lisan, perbuatan, dan keteguhan hati, termasuk melalui ibadah yang lebih baik, sedekah, serta berbuat kebaikan kepada sesama.
Khutbah ditutup dengan doa agar seluruh jamaah dijauhkan dari istidraj dan selalu berada dalam limpahan rahmat serta hidayah Allah SWT.
- Penulis : Juni Mulia Dewi, S.Pd
- Editor : Ridha Maulida, S.Sos